Oke, ini dia kisah pendek yang kamu minta: **Hujan di Malam Patah Hati** Hujan menggigil, persis seperti hatiku malam ini. Derasnya mengetuk jendela kafe, seolah menyuarakan jeritanku yang terpendam. Di layar ponselku, titik hijau kecil itu masih menyala. _Ia Melihatku Online, Tapi Tak Pernah Menyapa_. Dulu, titik itu adalah jaminan. Jaminan bahwa senyumnya ada di ujung sana, menungguku. Jaminan bahwa dunianya, walau sesaat, bersinggungan dengan duniaku. Dulu. Bayangan lentera di seberang jalan tampak patah, terbelah oleh genangan air. Sama seperti bayangan diriku di matanya sekarang. Patah. Tak utuh. Lima tahun. Lima tahun sejak malam itu. Malam pengkhianatan. Malam di mana cintaku remuk redam diinjak-injak kebohongan. Aku ingat baunya – parfum lavender murahan yang menempel di kemejanya, aroma yang tak pernah kupakai. Setiap _like_ yang kuberikan di unggahan Instagram-nya, setiap komentar basa-basi yang kutinggalkan, adalah kalkulasi dingin. Setiap senyum yang kupaksakan saat kami tak sengaja bertemu di pesta teman, adalah topeng besi yang berat. Ia tampak bahagia. Menikah, punya anak, karir cemerlang. Seolah tak ada jejak luka yang ia torehkan di hatiku. Seolah tak ada malam-malam tanpa tidur, tangis yang mengeringkan air mata, mimpi buruk yang terus menghantui. Namun, ia salah. **IA SANGAT SALAH!** Cahaya lentera di mejaku nyaris padam, berkedip lemah. Aku menyesap kopiku, pahitnya seperti kenangan. Di layar ponselku, kulihat ia membalas pesanku. Pesan yang kutinggalkan lima menit lalu. Pesan singkat, namun MEMATIKAN. "Maafkan aku, Maya. Aku tahu aku salah." Lima tahun. Lima tahun aku menunggu momen ini. Lima tahun aku menyusun setiap keping rencana. Lima tahun aku menahan amarah yang mendidih. Hujan semakin deras. Ponselku berdering. Nomor tak dikenal. Kuangkat. "Halo?" Suara serak di ujung sana berbisik, "Maya, tolong aku. Istrinya... istrinya..." Suara itu terputus. Yang kudengar hanya suara statis yang mengerikan. Aku tersenyum. Tipis. Dingin. _Ternyata, Lavender memang bisa menjadi racun yang mematikan, bukan begitu?_
You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Pedang Itu Menghapus
