Baiklah, ini dia: **Kau Lahir dengan Luka di Dada, Bekas Tusukan Pedangku di Masa Lalu** Kabut *Ungu* menyelimuti Danau Bulan Sabit, serupa kerudung sutra yang menutupi rahasia abadi. Di tepi danau itu, berdiri ia, seorang wanita bagai lukisan kabur – *Qi Xiulan*, namanya terukir di jantungku, meski aku tak pernah yakin apakah ia benar ada. Kulitnya seputih salju pertama, rambutnya sehitam gagak terbang di tengah badai. Matanya... oh, matanya adalah dua *jendela menuju senja abadi*, menyimpan kisah yang tak sanggup diucapkan kata-kata. Ia selalu memandangku dengan tatapan penuh kesedihan, seolah mengenalku lebih baik dari diriku sendiri. Aku adalah Li Wei, seorang *pengembara jiwa*, terjebak di antara dunia nyata dan mimpi. Aku melihatnya dalam lukisan kuno di kuil terpencil, mendengar suaranya dalam desiran angin di Lembah Terlarang, merasakan kehadirannya dalam setiap hembusan napas di Bukit Seribu Mimpi. Setiap pertemuan kami bagai *fragmen cermin yang pecah*. Kami berbincang tentang reinkarnasi, tentang takdir yang terjalin seperti benang kusut, tentang **cinta yang abadi meski dipisahkan oleh zaman**. Ia bercerita tentang seorang pendekar yang mengkhianatinya, tentang pedang yang menembus dadanya, meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Aku mendengarkan, terhipnotis, merasa familiar dengan kisah itu. Aku melihat bayangan diriku dalam tatapan matanya, bayangan seorang pria yang *kejam* dan *penuh penyesalan*. Mungkinkah... mungkinkah aku adalah pendekar itu? Suatu malam, di bawah rembulan yang pucat, Xiulan berkata, "Luka ini... luka ini bukan hanya di dadaku, Li Wei. Luka ini *ada di jiwamu*." Ia mendekat, meraih tanganku, lalu meletakkannya di dadanya. Aku merasakan denyut lemah di balik kulitnya yang lembut, denyut yang seolah berbicara tentang rasa sakit yang tak terperi. Kemudian, ia membuka jubahnya. Dan di sana, di dadanya yang putih bersih, terukir sebuah *tanda*. Sebuah tanda yang sangat kukenal. Sebuah tanda yang bentuknya persis sama dengan... *pedangku*. Aku tersentak. *INGATAN* itu menyeruak, bagai banjir bandang yang menghancurkan bendungan. Aku melihat diriku di masa lalu, seorang pendekar yang dibutakan oleh ambisi, menikam wanita yang kucintai karena dibutakan oleh rasa takut kehilangan kekuasaan! Air mata mengalir di pipiku. Aku mengkhianatinya. Aku membunuhnya. Dan sekarang, *reinkarnasi* mempertemukan kami kembali, membawaku berhadapan dengan dosa-dosaku. Xiulan tersenyum lembut, seolah memaafkanku. "Sudah kubilang... luka ini ada di jiwamu." Kebenaran ini... kebenaran ini *membakar* jiwaku. Aku hancur. Aku remuk. Cinta yang kucari-cari selama ini ternyata adalah hukuman bagiku. Di bawah rembulan yang semakin memudar, Xiulan menghilang, bagai kabut pagi yang ditiup angin. Aku ditinggalkan sendirian, dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Lalu, bisikan itu datang, dari kedalaman jiwaku, dari masa lalu yang terkutuk: *Apakah ini... penebusan?*
You Might Also Like: Ini Baru Cerita Janji Yang
