Baiklah, ini dia kisah Dracin pendek yang Anda minta: **Kau Menulis Pesan Terakhir, dan Aku Membaca Setiap Katanya Berulang** Kabut lavender menyelimuti Danau Bulan Sabit. Di tepi danau itu, di sebuah paviliun kayu tua yang rapuh, aku, Lin Yue, membaca surat usang untuk kesekian kalinya. Aroma tinta kuno dan melati menguar dari kertas tipis itu, membawa kenangan yang *sakitnya* menusuk tulang. “Yue'er-ku, jika kau membaca surat ini, berarti aku telah pergi. Pergilah sejauh mungkin. Jangan percaya pada siapapun. Mereka… mereka telah berkhianat.” Tinta itu tampak meleleh di beberapa bagian, seolah air mata telah membasahinya. Aku tidak ingat siapa penulisnya. Aku hanya tahu… surat itu *milikku*. Dan itu adalah *PESAN TERAKHIR*. Aku Lin Yue. Di kehidupanku yang sekarang, aku adalah seorang pelukis muda yang tinggal di desa terpencil. Tapi dalam mimpi-mimpiku, aku melihat kilasan kehidupan lampau. Istana megah. Gaun sutra merah menyala. Tarian di bawah cahaya bulan. Dan kemudian… *DARAH*. Pengkhianatan. Setiap malam, mimpi itu semakin jelas. Aku melihat wajah-wajah samar. Mendengar bisikan-bisikan berbahaya. Salah satu wajah itu… terasa sangat familiar. Wajah seorang pria. Suatu hari, Pangeran Rui tiba di desa. Dia tampan, berwibawa, dan… memiliki senyum yang *terlalu* manis. Aku merasakan sesuatu yang aneh ketika melihatnya. Bukan cinta, tapi *kengerian* yang membekukan darah. "Nona Lin Yue," sapanya dengan suara yang lembut. "Lukisanmu sangat terkenal. Aku ingin memintamu melukis potretku." Aku menerima permintaannya. Selama berhari-hari, aku melukisnya. Semakin aku menatap wajahnya, semakin jelas ingatan masa lalu menyeruak. Di setiap goresan kuas, aku melihat masa lalu dengan lebih JELAS. Dialah yang menusukku dari belakang. Dia yang berjanji cinta abadi, tapi menginginkan tahta lebih dari segalanya. Dialah yang menuliskan pesan terakhir itu dengan tangannya sendiri, setelah meracuniku perlahan. ***PENGKHIANAT***. "Pangeran Rui," ujarku suatu malam, saat kami sendirian di paviliun. "Di kehidupan sebelumnya, kau berjanji akan mencintaiku selamanya." Wajahnya tidak berubah. Senyumnya tetap terkembang. "Mungkin saja, Nona Lin Yue. Mungkin saja di kehidupan sebelumnya, aku melakukan kesalahan." Aku menaruh kuas dan paletku. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Balas dendamku tidak akan berdarah. Aku tidak akan membunuhnya. Aku akan mengubah takdirnya. Dengan satu goresan kuas terakhir, aku mengubah garis rahangnya. Membuatnya terlihat sedikit… lemah. Sedikit kurang berwibawa. Cukup untuk mengubah persepsi orang tentangnya. Cukup untuk mencegahnya menduduki tahta. Cukup untuk memastikan *kekalahan* tanpa setetes darah pun. "Selesai," kataku, menyerahkan potret itu padanya. Dia tersenyum, tidak menyadari bahwa takdirnya telah berubah selamanya. Dia pergi dengan potretnya, menuju istana, menuju masa depannya yang *bukan lagi miliknya*. Aku kembali ke Danau Bulan Sabit, membaca surat usang itu sekali lagi. "Yue'er-ku, balas dendamlah." Bukan balas dendam berdarah yang dia inginkan, tapi keadilan yang menenangkan. Aku telah memberikannya. Dan itu sudah cukup… untuk saat ini. Suara lonceng angin berdentang di kejauhan, membawa bisikan janji: Mungkin di kehidupan selanjutnya, aku akan mencintaimu, setelah semua yang terjadi.
You Might Also Like: Inspirasi Face Wash Untuk Kulit
