Cerita Populer: Kau Menatapku Dari Balik Tirai Waktu, Dan Aku Membalasnya Dengan Air Mata



Baiklah, ini dia kisah pendeknya: **Tirai Waktu, Air Mata, dan Dendam yang Terpendam** Hujan menggigil membasahi atap paviliun. Seperti ribuan jarum es, tetes-tetes itu menusuk kalbuku, mengingatkanku pada malam itu…malam pengkhianatan. Cahaya lentera di tanganku nyaris padam, menari-nari lemah, serupa dengan sisa-sisa harapanku. "Kau…," suara lirihku bergetar. "Kau menatapku dari balik tirai waktu, dan aku membalasnya dengan air mata." Di hadapanku, berdiri dia. Lin Wei. Wajahnya yang dulu kurindukan kini terpahat dingin, seolah batu giok yang kehilangan cahayanya. Dulu, mata itu memancarkan cinta. Sekarang, hanya ada kekosongan yang menganga. Bayangan kita berdua memanjang, patah, menimpa dinding paviliun yang lembab. Sama seperti hubungan kita. Dulu utuh, kini hancur berkeping-keping. Lima tahun. Lima tahun aku hidup dalam bayang-bayang. Bayang-bayangmu. Bayang-bayang rasa sakit. Setiap tetes hujan adalah air mata yang tak pernah berhenti mengalir. Setiap hembusan angin adalah bisikan nama *mu* yang menghantuiku. "Mengapa?" tanyaku, suaraku tercekat. "Mengapa kau melakukannya?" Lin Wei tidak menjawab. Bibirnya hanya membentuk garis tipis, tanpa ekspresi. Dulu, aku rela memberikan segalanya untuknya. Kepercayaan. Cinta. Bahkan nyawaku. Tapi dia membalasnya dengan tikaman di punggung. Sebuah pengkhianatan yang menghancurkan seluruh duniaku. Namun, dia tidak tahu. Dia tidak pernah tahu…bahwa di balik air mata dan kepedihan ini, aku menyimpan bara api. Api dendam yang telah kupelihara selama bertahun-tahun. Api yang akan membakar seluruh kehidupannya. Aku tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mataku. "Kau pikir aku lemah, Lin Wei?" bisikku. "Kau salah besar. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat." Cahaya lentera akhirnya padam, menenggelamkan kami dalam kegelapan. Hanya suara hujan yang menemani keheningan yang mencekam. Dia menatapku, akhirnya ada setitik rasa ingin tahu di matanya. Mungkin, sedikit ketakutan. Terlambat. Semuanya sudah terlambat. Perlahan, sangat perlahan, aku mengangkat tanganku. Menarik keluar sebilah pisau tersembunyi dari balik gaunku. Pisau yang telah lama aku asah, dengan air mata dan dendam. "Kau pikir kau tahu segalanya?" tanyaku, suaraku kini tajam seperti belati. "Kau salah… ***AYAHMU*** yang membunuh keluargaku. Dan kau… hanya pion dalam permainanku."
You Might Also Like: Kisah Seru Mahkota Itu Terjatuh Bersama

Post a Comment

Previous Post Next Post