## Kenangan yang Menolak Mati di Tengah Bara Hujan kota Seoul kembali menyapa. Jendela apartemenku berembun, sama buramnya dengan ingatanku tentangnya. *Dia*. Jaehyun. Nama itu masih berdering di telingaku, seperti nada dering ponsel yang tak kunjung berdering. Dulu, notifikasi adalah bahasa cinta kami. Pesan singkat tengah malam, meme konyol yang dikirim saat rapat membosankan, stiker beruang mengantuk di pagi hari. Sekarang, layar ponselku hanya memantulkan wajahku yang lelah, diterangi cahaya biru yang menyakitkan. Aroma kopi mengepul dari cangkirku, membawa serta kenangan tentang kafe kecil di Hongdae, tempat pertama kali mata kami bertemu. Dia memesan Americano tanpa gula, aku Latte dengan taburan cokelat. Kontras yang sempurna, seperti kami. Atau, setidaknya, begitulah yang *kubayangkan*. Sisa chat yang tak terkirim masih tersimpan di draft. Kalimat-kalimat patah, pertanyaan yang tak terjawab, ungkapan rindu yang **terlalu** jujur. Aku tak pernah berani mengirimnya. Rasa takut akan penolakan lebih besar dari keberanianku untuk mengungkapkan perasaan. Kehilangan ini samar, seperti kabut yang menyelimuti Gunung Namsan. Aku tak tahu di mana letak persisnya luka itu. Apakah karena kepergiannya tiba-tiba? Atau karena kebohongan yang terungkap perlahan? Atau karena, yang paling menyakitkan, kenyataan bahwa aku *mungkin* tak pernah benar-benar mengenalnya. Hubungan kami adalah labirin yang belum selesai. Jalan buntu, tikungan tajam, dan lorong-lorong gelap yang penuh rahasia. Salah satu rahasia itu, yang akhirnya terungkap oleh angin musim gugur, adalah tentang masa lalu Jaehyun. Masa lalu yang kelam, yang terhubung dengan kematian seorang gadis di Busan. Aku bukan detektif, bukan pula hakim. Aku hanya seorang wanita yang patah hati. Tapi, ***ketidakadilan*** terasa membakar di dadaku. Dendam lembut pun lahir, bukan dendam yang menghancurkan, tapi dendam yang membebaskan. Aku mengirim pesan terakhir. Bukan makian, bukan tangisan. Hanya satu foto. Foto kami berdua di Hongdae, tertawa lepas, sebelum segalanya menjadi gelap. Di bawahnya, aku menulis: "잘 지내세요, 재현. (Semoga kau baik-baik saja, Jaehyun.)" Aku mematikan ponselku. Senyum terakhirku terpancar, bukan senyum kebahagiaan, tapi senyum *ketenangan*. Aku memutuskan untuk melanjutkan hidup. Menutup buku ini tanpa kata-kata penutup. Ruangan terasa sunyi. Aroma kopi mulai memudar. Hujan di luar semakin deras. *Dan kini, aku merasa... ringan sekali.*
You Might Also Like: Drama Baru Bayangan Yang Menatapku Dari
