Cerpen Terbaru: Pelukan Yang Tak Pernah Kau Lupakan



Baiklah, ini dia kisah dracin dengan sentuhan takdir yang kamu inginkan: **Pelukan yang Tak Pernah Kau Lupakan** _Babak I: Bunga Persik di Tengah Salju_ Seratus tahun telah berlalu sejak malam *berdarah* itu. Malam ketika Lian Hua, sang putri kekaisaran, terkhianati dan meregang nyawa di bawah pohon persik yang tengah bermekaran di tengah salju. Ia bersumpah, dengan napas terakhirnya, bahwa jiwa pengkhianatnya, Jenderal Bai, akan menemukannya di kehidupan selanjutnya. Kini, bunga persik itu mekar kembali. Bukan di halaman istana yang megah, melainkan di taman kecil milik Wei Ying, seorang gadis desa yang memiliki aura *aneh*. Setiap musim semi tiba, pohon persik di tamannya akan mekar lebih awal, seolah merindukan sesuatu. Di kota yang sama, hiduplah Li Wei, seorang CEO muda yang sukses dan dingin. Namun, di balik kesempurnaannya, ada mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam. Mimpi tentang seorang putri, pedang berlumuran darah, dan *janji* yang terucap di bawah pohon persik. Ia merasa terikat dengan mimpi itu, seolah ia adalah bagian dari cerita yang telah lama terlupakan. Pertemuan mereka tak terhindarkan. Wei Ying, yang bekerja sebagai penjual bunga, suatu hari mengantarkan karangan bunga ke kantor Li Wei. Ketika mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti. Wei Ying merasakan *deja vu* yang kuat, seolah ia telah mengenal pria itu selama ribuan tahun. Sementara Li Wei, merasakan jantungnya berdebar kencang, diikuti rasa sakit yang menusuk di dadanya. "Suaramu…" bisik Li Wei, tanpa sadar. "Aku…merasa pernah mendengarnya." Wei Ying tersenyum lembut. "Mungkin di kehidupan sebelumnya, Tuan Li." _Babak II: Echo Masa Lalu_ Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan pertemuan *kebetulan*. Li Wei terus mencari Wei Ying, merasa tertarik dengan aura misterius yang mengelilinginya. Ia membawanya ke kuil-kuil kuno, berharap menemukan petunjuk tentang mimpi-mimpinya. Di kuil terpencil, Wei Ying menyentuh sebuah prasasti kuno. Tiba-tiba, penglihatan menghantamnya. Ia melihat masa lalunya, menjadi Putri Lian Hua yang dicintai rakyatnya. Ia melihat Jenderal Bai, kekasihnya, yang ternyata bersekongkol dengan musuh untuk merebut takhta. Air mata mengalir di pipinya. "Bai…kau *mengkhianatiku*…" Li Wei memeluknya erat. Ia pun mendapatkan penglihatan yang sama. Ia melihat dirinya, Jenderal Bai, mengangkat pedang ke arah Putri Lian Hua. Rasa bersalah dan penyesalan menghantuinya. "Maafkan aku, Lian Hua," bisiknya, dengan suara bergetar. "Aku… aku tidak tahu…" Misteri masa lalu mereka perlahan terungkap. Jenderal Bai, yang dibutakan oleh ambisi, telah dijanjikan takhta jika ia membunuh Putri Lian Hua. Namun, setelah pengkhianatannya, ia dihantui oleh rasa bersalah dan menyesal seumur hidupnya. _Babak III: Dendam dalam Keheningan_ Wei Ying, yang kini mengingat semuanya, tidak membalas dendam dengan kemarahan. Ia menyadari bahwa Li Wei, yang kini menjadi dirinya, adalah korban dari masa lalu. Ia memilih untuk membalas dendam dengan *keheningan* dan *pengampunan*. Ia tidak membenci Li Wei. Ia justru mengasihinya, karena ia tahu beban berat yang harus ia pikul. Ia terus berada di sisinya, menemaninya dalam setiap langkah. Kehadirannya adalah hukuman yang paling berat bagi Li Wei. Ia melihat cinta dan pengampunan di mata Wei Ying, yang membuatnya semakin menyesali perbuatannya di masa lalu. Pada akhirnya, Li Wei menyerahkan perusahaannya kepada yayasan amal, dan mengasingkan diri ke desa terpencil. Ia menghabiskan sisa hidupnya untuk menebus dosanya, dengan membantu orang-orang yang membutuhkan. Wei Ying sering mengunjunginya. Mereka duduk bersama di bawah pohon persik, menikmati keindahan bunga yang bermekaran. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya keheningan yang penuh makna. Di suatu sore yang cerah, Li Wei memegang tangan Wei Ying. "Aku… aku pantas mendapatkan hukuman ini." Wei Ying tersenyum lembut. "Kau sudah mendapatkan pengampunanku, Tuan Li. Sekarang, bebaskan dirimu." Li Wei menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Wei Ying memejamkan mata, merasakan rohnya pergi. Ia berdiri, menatap ke langit yang mulai menggelap. Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga persik. "Jangan lupakan… *aku selalu mencintaimu*…" bisiknya, seolah bisikan dari kehidupan sebelumnya.
You Might Also Like: Cafe Md Display Case Md On Bunjang

Post a Comment

Previous Post Next Post