SERU! Aku Menatap Pedang Di Tanganmu, Tapi Tak Pernah Ingin Menangkis



Baiklah, inilah kisah Dracin modern berjudul "Aku Menatap Pedang di Tanganmu, Tapi Tak Pernah Ingin Menangkis": **Aku Menatap Pedang di Tanganmu, Tapi Tak Pernah Ingin Menangkis** Hujan kota malam ini beraroma kopi yang basi. Seperti obrolan kita di *WeChat*, dulu. Dulu, saat setiap notifikasi darimu terasa seperti simfoni. Sekarang, hanya sisa-sisa percakapan yang tak terkirim. Draft yang menguning dalam *folder* draf, menanti keberanian yang tak pernah datang. Aku menatap layar ponselku. Sebuah foto lama terpampang. Kamu, tertawa. Tawa yang dulu membuat jantungku berdebar seirama dengan *playlist* kesukaanmu. Tawa yang sekarang hanya menghantui mimpi-mimpiku yang sepi. Mimpi yang dipenuhi bayang-bayangmu, siluet yang menari di antara gedung-gedung pencakar langit kota ini. Pedang di tanganmu, *Yuan*, adalah sikap dinginmu. Keacuhanmu. Kata-kata tajam yang dulu mengiris hatiku tanpa ampun. Tapi aku… aku tidak pernah ingin menangkis. Karena aku percaya, di balik baja itu, ada hati yang terluka. Hati yang sama rapuhnya denganku. Kita bertemu di dunia yang serba cepat. Aplikasi kencan, kencan buta yang diatur teman. Awalnya klise, tapi kemudian berkembang menjadi sesuatu yang… lebih. Sesuatu yang kompleks. Sesuatu yang *berbahaya*. Kamu selalu menyimpan rahasia. Tatapanmu menyimpan jurang yang dalam. Aku berusaha menyelam ke dalamnya, tapi selalu terhempas kembali. Kamu adalah teka-teki yang kusukai dan kubenci. Kehilangan samar menyelimutiku sejak awal. Sejak malam pertama kita bertemu. Sejak senyum pertama yang kuterima. Karena aku tahu, cepat atau lambat, kamu akan pergi. Seperti kabut yang menghilang di bawah terik matahari. Misteri hubungan kita adalah perjalanan tanpa peta. Aku tahu ada seseorang di masa lalumu. Seseorang yang lebih penting dariku. Seseorang yang membayangi setiap momen kita bersama. Namanya terukir di hatimu, meskipun kamu tak pernah mengucapkannya. **Dan akhirnya, kebenarannya terungkap.** Bukan dari bibirmu, tentu saja. Tapi dari sebuah *postingan* Instagram. Sebuah foto pernikahan. Kamu, berdiri di samping seorang wanita dengan senyum yang belum pernah kulihat. Senyum yang tulus. Senyum yang bukan untukku. Kekosongan. *NYERI*. Itulah yang kurasakan. Seperti dijatuhkan dari gedung tertinggi di kota ini tanpa ampun. Hancur berkeping-keping. Namun, balas dendam terbaik bukanlah kemarahan. Bukan cacian. Bukan air mata. Tapi **keberanian untuk melepaskan.** Aku menulis pesan terakhir. Sebuah pesan singkat, padat, dan jelas. Pesan yang tak akan pernah kamu lupakan. " *Selamat*. Semoga bahagia." Aku menghapus semua fotomu. Semua percakapan kita. Semua kenangan. Aku memblokir nomormu. Menghapusmu dari duniaku. Kemudian, aku berdiri di balkon apartemenku, menatap gemerlap lampu kota. Aku tersenyum. Senyum yang lembut, tapi penuh makna. Senyum yang mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja. Aku *akan* baik-baik saja. Aku menarik napas dalam-dalam. Udara malam terasa dingin di kulitku. Aku memejamkan mata. Dan kemudian, aku melangkah maju. Bukan untuk melompat. Tapi untuk *meninggalkanmu*. Aku tidak akan pernah lagi menatap pedang di tanganmu. Karena aku sudah membuang perisaiku. Dan aku melangkah pergi, meninggalkanmu dengan pilihanmu sendiri... ...*Apakah dia akan menyesal?*
You Might Also Like: Diskon Skincare Lokal Berkualitas

Post a Comment

Previous Post Next Post