Dracin Populer: Kau Pergi Tanpa Pamit, Tapi Meninggalkan Kemejaku Dengan Air Mata



## Kau Pergi Tanpa Pamit, Tapi Meninggalkan Kemejaku dengan Air Mata Dulu, aroma magnolia selalu mengingatkanku pada senyummu, senyum yang kini terasa seperti serpihan kaca dalam ingatan. Kita bertemu di bawah pohon magnolia yang sama, di taman universitas itu, saat musim semi mulai merajuk. Kamu, dengan buku puisi di tangan dan mata yang berbinar. Aku, yang langsung terjebak dalam tatapmu. Kita adalah dua insan yang haus akan keindahan, haus akan cinta yang *abadi*. Kita merajut janji di bawah rembulan, janji yang katanya akan mengikat kita selamanya. Janji tentang rumah kecil di tepi danau, tentang tawa anak-anak yang berlarian, tentang senja yang kita saksikan bersama hingga rambut memutih. Namun, musim berganti. Magnolia layu, dan begitu pula janjimu. Kau pergi tanpa sepatah kata, tanpa alasan yang jelas. Meninggalkan aku terhuyung dalam kesepian yang *membeku*. Hanya kemejamu yang tertinggal di lemari, basah oleh air mata yang tak pernah kau lihat. Air mata penyesalan, air mata kemarahan, air mata cinta yang dikhianati. Malam itu, aku memeluk kemejamu erat-erat. Aroma parfummu masih tertinggal, menyiksa hidungku dengan kenangan yang pahit. Di bawah remang lampu kamar, aku melihat noda air mata – bukan hanya air mataku, tapi juga… **AIR MATAMU.** Mengapa, Lin? Mengapa kau pergi setelah semua yang kita janjikan? Waktu berlalu, luka perlahan mengering, meski bekasnya tetap membekas. Aku bangkit, membangun diriku kembali. Aku meraih impian yang dulu kita rangkai bersama, impian yang kau tinggalkan begitu saja. Aku menjadi *lebih kuat*, lebih sukses, lebih… segalanya. Dan kemudian, takdir mempertemukan kita kembali. Kau berdiri di hadapanku, di acara peluncuran galeri seni lukisku – galeri yang kurancang sendiri, dengan magnolia sebagai logo utamanya. Matamu berkaca-kaca saat melihatku. Kau mencoba meminta maaf, mencoba menjelaskan. Aku hanya tersenyum tipis. Aku melihat penyesalan yang mendalam di matamu, penyesalan yang jauh lebih dalam dari yang kurasakan dulu. Kau telah kehilangan segalanya. Keluargamu bangkrut, karirmu hancur, dan kini, kau berdiri di hadapanku, memohon belas kasihan. Aku mengulurkan tanganku, bukan untuk memaafkan, tapi untuk menunjukkan padamu apa yang telah kau lewatkan. Aku adalah *simfoni yang indah*, sebuah mahakarya yang tak akan pernah bisa kau miliki lagi. Aku menatapmu lekat-lekat, dan berkata dengan nada dingin, "Selamat menikmati buah dari pilihanmu, Lin." Malam itu, aku pulang dengan senyum misterius. Di atas meja, tergeletak kemejamu yang dulu, kini bersih dan rapi. Kemeja itu seperti pengingat, bukan tentang cinta, tapi tentang keadilan yang *terlambat*. **Mungkin cinta sudah mati, tapi dendam masih berbisik mesra dalam hening.**
You Might Also Like: 98 Sony Xperia 1 Viii Official Trailer

Post a Comment

Previous Post Next Post