Baiklah, inilah kisah dracin pendek berjudul "Cinta yang Kuterjemahkan Dalam Luka": **Cinta yang Kuterjemahkan Dalam Luka** Kabut tipis menyelimuti Danau Bulan Sabit, mengingatkanku pada lukisan tinta yang hidup. Di sinilah aku berdiri, Li Wei, seorang penerjemah kuno dari Dinasti Tang. Atau, setidaknya, itulah yang *dulu* aku yakini. Namun, mimpi-mimpi aneh terus menghantuiku. Mimpi tentang istana megah, jubah sutra berhiaskan naga, dan seorang pria dengan senyum semanis madu, tapi mata sedingin es – Kaisar Xuanzong. Dan aku… aku adalah Selir Yu, kesayangannya. Aku selalu merasa ada yang hilang, sebuah kepingan memori yang tak bisa kuraih. Pekerjaan menerjemahkan naskah-naskah kuno justru semakin memperburuk keadaanku. Setiap karakter, setiap kalimat, terasa *familiar* namun terdistorsi, seperti cermin retak yang memantulkan masa lalu yang hancur. Suatu hari, aku menerjemahkan sebuah puisi – Syair Bulan Sabit. Tangan gemetar saat membaca baris terakhir: "Di bawah rembulan yang sama, pengkhianatan bersemi, janji terucap, lalu *mati*." Jantungku berdebar kencang. Pengkhianatan? Siapa yang mengkhianatiku? Semakin dalam aku menyelami naskah kuno, semakin jelas gambaran masa laluku. Selir Yu, seorang wanita yang mencintai Kaisar Xuanzong dengan segenap hatinya, dikhianati. Dirinya dijebak dalam konspirasi istana oleh *kekasihnya sendiri*, Kaisar Xuanzong, yang menginginkan tahta lebih dari cintanya. Pengkhianatan itu menghancurkanku, bukan hanya sebagai Selir Yu, tapi juga sebagai Li Wei. Luka itu terlalu dalam, membekas hingga ke jiwa. Kemudian, dia muncul. Di pesta teh yang diadakan kolega kerjaku, aku melihatnya. Pria itu. Pria dengan senyum semanis madu dan mata sedingin es – CEO perusahaan teknologi raksasa, Zhang Wei. ***Dia*** adalah reinkarnasi Kaisar Xuanzong. Instingku berteriak untuk lari, untuk bersembunyi dari tatapannya yang menusuk. Tapi, aku tahu, aku tidak bisa. Balas dendam tidak harus berupa pedang terhunus atau sumpah serapah. Balas dendamku adalah *keputusanku*. Zhang Wei mendekatiku, senyumnya memesona. "Li Wei," sapanya, suaranya rendah dan berat, "Saya sudah lama ingin bertemu dengan Anda." Aku menatap matanya, melihat kilatan penyesalan yang tersembunyi di sana. Dia *ingat*. "Zhang Wei," jawabku tenang. "Sayangnya, pertemuan ini bukan atas kehendakku." Aku tahu, dengan satu kata yang kuucapkan, aku bisa menghancurkannya. Membongkar praktik bisnisnya yang kotor, mengungkapkan ke publik bahwa dia adalah seorang *pengkhianat*. Tapi, aku memilih jalan yang berbeda. Aku mengundurkan diri dari pekerjaanku, meninggalkan semua yang kukenal. Aku akan menggunakan keahlianku untuk membantu orang lain, untuk membangun sesuatu yang *nyata* dan abadi, tanpa intrik dan pengkhianatan. Saat berbalik dan berjalan menjauh, aku mendengar langkah kakinya mendekat. "Li Wei! Tunggu!" Aku tidak berhenti. Aku tidak berbalik. Aku hanya tersenyum tipis. Kehidupan ini bukan tentang balas dendam, tapi tentang menemukan kedamaian. Biarkan dia hidup dengan penyesalannya. Biarkan takdir yang menentukan. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku tahu… _Janji cinta yang terkhianati, mungkin akan menagihnya di kehidupan selanjutnya, bahkan setelah seribu tahun berlalu._
You Might Also Like: Discover Daves Hot Chickens Allergen
