Seru Sih Ini! Tahta Yang Bergetar Saat Nama Itu Disebut



Baiklah, inilah kisah puitis bergaya *dracin* klasik berjudul "Tahta yang Bergetar Saat Nama Itu Disebut", dalam bahasa Indonesia yang indah dan metaforis: **Tahta yang Bergetar Saat Nama Itu Disebut** Di balik tirai sutra senja, Istana Giok berlumur cahaya lembayung. Bayangan menari di dinding, bisikan angin membawa aroma bunga persik yang terlupakan. Di sanalah Kaisar Lang, sang penguasa seluruh daratan, duduk di tahtanya. Tahta yang seharusnya kokoh, **BERGETAR** setiap kali nama itu disebut. Nama yang terukir di dasar hatinya, tersembunyi di antara lipatan takdir: Yue Li. Yue Li... lukisan kabut pagi di atas Danau Bulan Sabit. Bayangan kupu-kupu yang terbang di mimpi seorang pertapa. Ia adalah melodi harpa yang tak pernah selesai, aroma dupa terlarang di kuil terpencil. Kaisar Lang tak pernah benar-benar bertemu Yue Li. Ia hanya melihatnya dalam mimpi, dalam pantulan air sungai yang mengalir, dalam goresan kuas pelukis istana yang menangkap esensi keindahan yang fana. Cinta mereka adalah *mimpi dalam mimpi*, bayangan dalam bayangan. Sebuah janji yang terucap dalam sunyi, kerinduan yang membakar jiwa tanpa pernah terpadamkan. Para kasim berbisik tentang kegilaan Kaisar Lang. Mereka menyebutnya terobsesi, gila, terperangkap dalam ilusi. Tetapi, siapa yang berani menentang seorang Kaisar? Bertahun-tahun berlalu. Istana Giok dipenuhi lukisan Yue Li. Setiap sudutnya menggemakan nama itu, seperti gema dari dunia yang tak pernah ada. Kaisar Lang membangun menara tertinggi di istana, hanya untuk melihat bayangan Yue Li di antara bintang-bintang. Suatu malam, di bawah rembulan pucat, seorang pelukis istana memberanikan diri. Ia menghadap Kaisar Lang dengan wajah pucat pasi. "Yang Mulia... Yue Li... bukan sekadar lukisan atau mimpi..." suaranya bergetar. Kaisar Lang menajamkan pandangannya. "Katakan!" "Yue Li... adalah nama ibu Anda, *Yang Mulia*. Seorang selir yang disingkirkan karena dianggap membawa kutukan. Ia melukis dirinya sendiri, dan menanamkan keindahannya ke dalam setiap lukisan. Ia *meninggalkan jejaknya*, agar Anda... tidak pernah melupakannya." **KEBENARAN** menghantam Kaisar Lang seperti badai salju. Cinta yang ia kira abadi, ternyata hanyalah *bayangan dari masa lalu*. Rindunya adalah gema dari luka lama ibunya. Tahta itu bergetar lebih keras dari sebelumnya. Bukan karena nama Yue Li, tetapi karena beban **KESADARAN**. Di bawah rembulan yang terus menatap, Kaisar Lang membisikkan sebuah kalimat: *“Apakah aku mencintai bayangan diriku sendiri selama ini…?”*
You Might Also Like: 144 Tropic Of Cancer Unveiling Lineage

Post a Comment

Previous Post Next Post