Seru Sih Ini! Cinta Yang Menjadi Pengkhianatan



Cinta yang Menjadi Pengkhianatan

Kabut ungu melayang di atas Danau Bulan Sabit, sama halnya dengan rahasia yang menyelimuti persahabatan Lin Wei dan Zhao Feng. Sejak kecil, mereka terikat janji suci di bawah pohon sakura yang mekar, janji untuk saling melindungi, untuk saling menguatkan di tengah badai dunia. Mereka adalah saudara, walau tak sedarah. Lin Wei, dengan senyumnya yang menenangkan dan kecerdasannya yang tajam, selalu menjadi pelindung bagi Zhao Feng yang penuh semangat dan berapi-api.

"Feng'er," bisik Lin Wei suatu senja, saat mereka duduk di atas bukit yang menghadap desa, "Dunia ini kejam. Tapi selama kita bersama, kita akan baik-baik saja."

Zhao Feng, dengan mata yang berkilat seperti bintang, mengangguk. "Wei ge, aku percaya padamu. Hidupku ada di tanganmu."

Namun, di balik senyum dan janji setia, tersembunyi benih kepercayaan yang mulai berkarat.

Misteri itu mulai terkuak saat Lin Wei diangkat menjadi tangan kanan Kaisar, sebuah posisi yang didambakan dan diperebutkan. Kekuasaan mengubahnya. Senyumnya menjadi lebih jarang, matanya lebih dingin. Zhao Feng, yang dulunya selalu berada di sisinya, kini merasa seperti orang asing. Bisik-bisik mulai beredar tentang korupsi, pengkhianatan, dan rahasia kelam yang menyelimuti Lin Wei.

"Wei ge," tanya Zhao Feng dengan nada waspada, "Apakah semua ini benar? Apakah kau benar-benar... terlibat?"

Lin Wei hanya tersenyum, sebuah senyum yang tak lagi dikenali Zhao Feng. "Feng'er, kekuasaan adalah permainan. Dan dalam permainan ini, kau harus melakukan apa yang perlu kau lakukan untuk menang."

Jawaban itu bagai tamparan. Kepercayaan mereka hancur berkeping-keping. Zhao Feng mulai menyelidiki, menggali lebih dalam ke dalam intrik istana. Semakin dalam dia menggali, semakin mengerikan kebenaran yang ia temukan. Ternyata, Lin Wei telah bersekongkol dengan musuh lama keluarga Zhao, merencanakan kejatuhan mereka demi kekuasaan dan ambisi pribadi.

Pengkhianatan! Sungguh pengkhianatan!

Dan di balik pengkhianatan itu, tersembunyi sebuah rahasia yang lebih besar lagi. Lin Wei bukanlah saudara Zhao Feng. Ia adalah anak haram dari Kaisar sebelumnya, yang disembunyikan dan dibesarkan di antara rakyat jelata untuk suatu tujuan tertentu: Menyingkirkan keluarga Zhao dari tampuk kekuasaan.

Malam itu, di bawah cahaya bulan yang pucat, Zhao Feng menghadapi Lin Wei. Pedang terhunus di tangan mereka.

"Kenapa, Wei ge? KENAPA?" raung Zhao Feng, air mata mengalir di pipinya.

Lin Wei menatapnya dengan tatapan dingin. "Kau bodoh, Feng'er. Kau selalu bodoh. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudara. Kau hanyalah alat untuk mencapai tujuanku."

Pertarungan pun dimulai. Sebuah tarian kematian di bawah rembulan. Pedang beradu, kilatan api menyambar. Setiap sabetan adalah ungkapan rasa sakit, kemarahan, dan kekalahan. Zhao Feng, yang dipenuhi amarah dan rasa sakit hati, akhirnya berhasil melukai Lin Wei.

Lin Wei terjatuh, darah mengalir dari dadanya. Dia tersenyum pahit. "Kau menang, Feng'er. Tapi kau tidak akan pernah tahu kebenaran sebenarnya."

Dengan sisa tenaga terakhirnya, Zhao Feng menusuk pedangnya ke jantung Lin Wei. Balas dendam telah terbalaskan. Namun, kemenangan itu terasa pahit dan hampa.

Saat Lin Wei menghembuskan napas terakhirnya, dia berbisik, "Aku tidak pernah membencimu... aku hanya... terlalu mencintai kekuasaan..."

Di tengah hening malam, Zhao Feng terduduk, pedang berlumuran darah di tangannya. Kebenaran telah terungkap, tapi hati Zhao Feng hancur berkeping-keping.

"Yang terkhianati...sebenarnya adalah...diriku sendiri..."

You Might Also Like: Interpretasi Mimpi Disengat Kumbang

Post a Comment

Previous Post Next Post