Tangisan yang Tak Lagi Minta Maaf
Malam itu menggantung berat, seperti kain kafan di atas desa yang berselimut salju. Di Padepokan Bulan Sabit, aroma dupa cendana beradu pahit dengan bau anyir darah yang meresap ke dalam lantai bambu. Di tengah aula yang remang, Hua Mei, dengan gaun sutra merahnya yang ternoda, menatap Li Wei, suaminya, dengan mata yang memancarkan badai.
Salju di luar berputar-putar, menari liar seperti amarah yang membara di dada Hua Mei. Dulu, di musim semi yang sama, di bawah pohon persik yang bermekaran, Li Wei telah berjanji untuk mencintainya selamanya. Sekarang, janji itu hanyalah abu yang bertebaran di antara mereka.
"Delapan tahun," bisik Hua Mei, suaranya serak seperti gemerisik daun kering. "Delapan tahun aku menunggu. Delapan tahun aku memendam rahasia ini, demi CINTA yang ternyata hanya ilusi."
Li Wei, berdiri tegak di bawah tatapan dingin Hua Mei, wajahnya seputih salju. Di tangannya, pedang pemberian Hua Mei berlumuran darah. Bukan darah musuh, melainkan darah Pengkhianatan.
"Hua Mei…" Li Wei memulai, namun kata-katanya tercekat di tenggorokannya. Dia tahu. Dia tahu bahwa malam ini, badai yang telah lama mengintai akan meledak.
"Jangan sebut namaku!" desis Hua Mei. Air mata mengalir di pipinya, menelusuri jejak luka yang tersembunyi di balik riasan wajahnya. Air mata itu, BUKAN air mata kelemahan. Air mata pembebasan. Air mata balas dendam.
Rahasia itu, seperti ular berbisa, telah melilit hati Hua Mei selama bertahun-tahun. Rahasia tentang kematian ayahnya, tentang pengkhianatan Li Wei kepada klannya, tentang bayi yang dikandungnya dan DIHILANGKAN atas perintah Li Wei.
"Ayahku… kau membunuhnya," desis Hua Mei, setiap kata bagaikan belati yang menusuk. "Klan Bulan Sabit… kau hancurkan. Dan anakku… KAU RENGGUT NYAWANYA!"
Li Wei terhuyung. Pedangnya jatuh dengan bunyi dentang yang memekakkan telinga. Pengakuan Hua Mei, dingin dan tanpa ampun, meruntuhkan semua pertahanannya.
"Aku… aku melakukannya demi kita," lirih Li Wei, putus asa. "Demi masa depan kita!"
Tawa pahit Hua Mei memenuhi aula. "Masa depan? Masa depan yang dibangun di atas darah dan kebohongan? Tidak, Li Wei. Tidak ada masa depan untuk kita."
Hua Mei melangkah maju, mengambil sebilah pisau kecil dari balik gaunnya. Pisau itu berkilauan di bawah cahaya redup lilin, memantulkan tekad membara di matanya.
"Kau mengambil segalanya dariku," kata Hua Mei, suaranya tenang, berbahaya. "Sekarang… aku akan mengambil segalanya darimu."
Malam itu, di Padepokan Bulan Sabit, tidak ada teriakan, tidak ada permohonan. Hanya desisan pisau yang membelah udara dan suara tubuh yang jatuh dengan TENANG di atas salju yang memerah.
Balas dendam Hua Mei tidak berteriak, tidak bergemuruh. Balas dendamnya adalah kedinginan salju, kesunyian malam, dan tatapan kosong seorang wanita yang tidak lagi memiliki apa pun untuk DIPERTAHANKAN.
Di pagi hari, ketika matahari akhirnya berhasil menembus kabut salju, Hua Mei berdiri di depan padepokan yang hangus. Di tangannya, dia memegang pedang Li Wei. Di kakinya, tergeletak jasad Li Wei yang membeku.
Dia melemparkan pedang itu ke dalam api yang masih menyala, menyaksikan api melahap sisa-sisa masa lalu yang menghantuinya.
Kemudian, dengan langkah mantap, dia berjalan menuju kegelapan hutan, meninggalkan segalanya di belakang. Dia tidak menoleh. Dia tidak menangis. Dia hanya berjalan, menuju masa depan yang tidak pasti, namun sepenuhnya miliknya.
Kabar tentang kejadian di Padepokan Bulan Sabit menyebar seperti api. Semua orang tahu bahwa Li Wei telah dikhianati dan dibunuh. Namun, tidak ada yang berani mencari Hua Mei. Mereka tahu, mereka MERASAKAN, bahwa balas dendam Hua Mei belum selesai.
Dan bisikan terakhir yang beredar di antara para pendekar adalah… "Semoga dia tidak pernah menemukanmu jika kau pernah menyakitinya, karena amarahnya lebih dingin dari musim dingin yang paling beku."
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Dengan