"Lian Yi," bisik Jing Wei, suaranya serak tertelan hujan. "Kenapa... kenapa kau mengajakku ke sini?"
Lian Yi tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Apa kau tidak merindukan tempat ini, Jing Wei? Tempat kita berjanji untuk bersama selamanya... janji yang kau patahkan sendiri."
Bayangan Jing Wei tampak bergetar di dinding paviliun, seolah jiwanya sedang terkoyak. Dulu, Lian Yi begitu mencintai pria ini, dengan sepenuh hatinya. Cintanya begitu murni, begitu tulus. Hingga ia menemukan surat-surat itu... surat-surat cinta Jing Wei untuk Mei Hua, sahabatnya sendiri.
"Aku... aku minta maaf, Lian Yi. Aku tahu aku salah." Jing Wei menunduk, tidak berani menatap mata Lian Yi yang dulu penuh dengan cinta, kini sedingin es.
"Maaf?" Lian Yi terkekeh, tawa hampa yang membuat bulu kuduk Jing Wei meremang. "Apakah 'maaf' bisa mengembalikan hatiku yang kau hancurkan? Apakah 'maaf' bisa menghapus pengkhianatanmu?"
Jing Wei terdiam. Hujan semakin deras, menutupi isak tangisnya yang tertahan. Ia ingat bagaimana Lian Yi menghilang setelah kejadian itu, meninggalkan kota ini, meninggalkan dirinya. Ia kira, Lian Yi sudah melupakannya. Ia kira, Lian Yi sudah memaafkannya. Tapi, tatapan matanya yang dingin, suaranya yang menusuk, membuktikan sebaliknya.
"Kau tahu, Jing Wei," Lian Yi melanjutkan, suaranya rendah dan berbahaya. "Lima tahun ini, aku tidak melakukan apa pun selain merencanakan ini. Merencanakan pembalasan."
Jing Wei mengangkat kepalanya, menatap Lian Yi dengan tatapan ketakutan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Cahaya lentera yang nyaris padam menyoroti wajah Lian Yi, memperlihatkan senyum sinis yang membuat darah Jing Wei membeku.
"Aku tahu semua tentang bisnismu, Jing Wei. Aku tahu semua tentang kelemahanmu. Dan yang paling penting, aku tahu siapa yang paling kau sayangi..." Lian Yi mendekat, bisikannya bagai hembusan napas iblis. "Putri kecilmu, Jing Yu, kan?"
Jantung Jing Wei berdegup kencang. Ia tahu Lian Yi mampu melakukan apa saja. Ia tahu Lian Yi menyimpan dendam yang begitu besar.
"Jangan... jangan sentuh putriku! Aku mohon!" Jing Wei berlutut di hadapan Lian Yi, memohon dengan putus asa.
Lian Yi menendang Jing Wei hingga tersungkur. "Kau pikir aku akan memperlakukan putrimu seperti kau memperlakukanku? Oh, Jing Wei... kau salah besar."
Lian Yi berbalik, berjalan menjauh meninggalkan Jing Wei yang terkapar di bawah guyuran hujan. Langkahnya ringan, seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya. Sebelum menghilang dalam kegelapan malam, ia berhenti sejenak dan berkata dengan suara yang dingin dan penuh misteri:
"Ternyata, Mei Hua bukanlah sahabatku... melainkan adik kembarku yang hilang."
You Might Also Like: Jualan Skincare Bisnis Rumahan Di