Hujan menggigil di luar jendela kafe. Di dalam, aroma kopi pahit bercampur nostalgia menyesakkan. Li Hua duduk di pojok, matanya terpaku pada seorang pria yang baru saja memasuki ruangan. Lin Yi. Sepuluh tahun berlalu, namun bayang-bayang pengkhianatannya masih setia membayanginya seperti bayangan patah di bawah rembulan. Lin Yi melihat Li Hua. Matanya memancarkan kebingungan, lalu terkejut, dan akhirnya terselubung kesedihan. Ia mendekat, langkahnya berat seolah memikul beban sepuluh tahun penyesalan. "Li Hua..." bisiknya, suaranya serak. Li Hua tidak menjawab. Ia hanya menatap Lin Yi, dingin dan tanpa ekspresi. Di tangannya tergenggam sebuah buku bersampul lusuh – buku yang dulu diberikan Lin Yi padanya. *Kau memeluk buku itu, seolah di dalamnya ada perasaanku,* dulu Lin Yi pernah berbisik. Sekarang, perasaan itu telah berubah menjadi bara api yang membakar hati Li Hua. "Apa kabarmu?" Lin Yi berusaha memecah keheningan yang mencekik. Li Hua tersenyum sinis. "Baik. Sangat baik. *Terima kasih* sudah menanyakan." Obrolan mereka canggung, dipenuhi jeda panjang dan tatapan yang saling menghindar. Lin Yi menceritakan tentang hidupnya, tentang penyesalannya, tentang kesepiannya. Setiap kata yang diucapkannya terasa seperti pisau yang menusuk hati Li Hua, mengingatkannya pada janji-janji manis yang dulu pernah mereka ukir bersama. Cahaya lentera di kafe berkedip-kedip, nyaris padam, seolah ikut merasakan kesedihan yang melingkupi mereka. Li Hua mendengarkan dengan sabar, mengangguk sesekali, menyembunyikan amarah yang mendidih di dalam dirinya. Ia belajar menyembunyikan perasaannya dengan baik, sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk mematangkan sebuah rencana. "Li Hua, aku... aku sungguh menyesal," kata Lin Yi akhirnya, suaranya bergetar. "Aku tahu kata-kata tidak akan bisa mengembalikan semuanya, tapi aku ingin kau tahu, aku tidak pernah berhenti memikirkanmu." Li Hua tertawa hambar. "Memikirkanku? Setelah apa yang kau lakukan? Setelah kau merebut segalanya dariku?" Lin Yi terdiam, tertunduk. Ia tahu, ia pantas menerima semua kemarahan ini. Li Hua berdiri. "Kau tahu, Lin Yi, **kau tidak akan pernah bisa mengerti apa yang kurasakan.**" Ia mendekat, berbisik di telinga Lin Yi. "Selama sepuluh tahun ini, aku hidup hanya untuk satu tujuan: **membuatmu merasakan sakit yang sama.**" Lin Yi mendongak, matanya memancarkan ketakutan. Ia baru menyadari, di balik tatapan dingin Li Hua, tersembunyi sebuah rencana yang mengerikan. Li Hua tersenyum, senyum yang tidak mencapai matanya. "Kau tahu, Lin Yi... **putra yang kau bangga-banggakan itu... bukan anakmu.**"
You Might Also Like: Rekomendasi Face Wash Tanpa Paraben