Cerpen Seru: Tangisan Yang Menjadi Rindu Palsu



Baik, inilah kisah dracin tragis yang Anda minta, berjudul 'Tangisan yang Menjadi Rindu Palsu'. **Tangisan yang Menjadi Rindu Palsu** Di antara teratai ungu yang bermekaran di Danau Bulan Sabit, tumbuhlah Lin Yue dan Jiang Wei. Mereka bagaikan saudara sedarah, terikat oleh sumpah masa kecil di bawah naungan pohon sakura keramat. Lin Yue, dengan senyum menawannya, dan Jiang Wei, dengan tatapan setajam elang, adalah kekuatan yang tak terpisahkan di Akademi Bela Diri Giok. "Yue'er," bisik Jiang Wei suatu senja, angin membawa aroma melati, "Kita akan menaklukkan dunia ini bersama. Sumpah kita abadi." Lin Yue tersenyum, senyum yang kini terasa seperti _pisau tersembunyi_. "Abadi, Wei. Seperti *cinta* kita... pada persahabatan ini." Namun, di balik senyum dan sumpah, tersembunyi rahasia kelam yang menggerogoti fondasi persahabatan mereka. *** Lima belas tahun berlalu. Lin Yue dan Jiang Wei menjadi jenderal yang paling ditakuti di seluruh kekaisaran. Kemenangan demi kemenangan mereka raih, pujian mengalir deras. Namun, setiap kali Lin Yue menatap mata Jiang Wei, ia melihat _bayangan keraguan_. Suatu malam, di bawah taburan bintang, Lin Yue memberanikan diri. "Wei, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Sesuatu tentang masa lalu... tentang kematian ayahku." Jiang Wei mematung. "Ayahmu meninggal karena sakit, Yue'er. Kenapa kau bertanya lagi?" Nada bicaranya begitu *dingin*, seperti es yang membeku di musim dingin. "Itu yang dikatakan. Tapi aku mendengar bisikan... bisikan tentang _pengkhianatan_. Bisikan tentang... kau, Wei." Wajah Jiang Wei berubah. Topeng keramahan yang selama ini ia kenakan retak, memperlihatkan kebencian yang membara di baliknya. "Pengkhianatan? Kau menuduhku, Yue'er? Setelah semua yang kita lalui?" "Katakan yang sebenarnya, Wei! Siapa yang membunuh ayahku?" "Ayahmu... adalah penghalang. Penghalang bagi ambisiku. Dia tahu terlalu banyak. Dan aku... aku harus menyingkirkannya." Lin Yue terhuyung mundur. *Dunia terasa runtuh*. Sahabatnya, saudaranya, orang yang ia percayai sepenuh hati, adalah pembunuh ayahnya. "Kenapa, Wei? Kenapa kau melakukan ini?" air mata mengalir deras di pipinya. "Karena... aku menginginkan *semuanya*, Yue'er. Kekuasaan, kemuliaan... dan *kau*." *** Balas dendam adalah sungai berdarah yang tak bisa dihindari. Di tengah badai pedang dan jeritan kematian, Lin Yue dan Jiang Wei bertarung. Bukan lagi sebagai sahabat, melainkan sebagai musuh bebuyutan. Setiap tebasan pedang adalah _teriakan masa lalu_, setiap tusukan adalah _luka pengkhianatan_. Akhirnya, Lin Yue berhasil melukai Jiang Wei dengan fatal. Jiang Wei terbaring di tanah, darah membasahi jubah kebesarannya. "Kau... mengkhianatiku, Yue'er," bisiknya dengan suara serak. Lin Yue berlutut di sampingnya, air matanya menetes ke wajah Jiang Wei. "Aku tidak pernah mengkhianatimu, Wei. Kau yang memulai semua ini." "Aku... mencintaimu, Yue'er. Lebih dari apapun di dunia ini. Tapi... cintaku adalah kutukan." Jiang Wei mengulurkan tangannya, mencoba meraih wajah Lin Yue. Lin Yue meraih tangan itu, menggenggamnya erat. "Maafkan aku, Yue'er. Maafkan aku..." Lalu, hening. Jiang Wei menghembuskan napas terakhirnya. Lin Yue meraung, raungan kesedihan dan kemarahan yang membelah langit malam. Di tengah reruntuhan dan mayat bergelimpangan, Lin Yue berdiri seorang diri. Kemenangan terasa pahit seperti empedu. Ia telah membalas dendam, tapi hatinya hancur berkeping-keping. *Semua ini... hanya permainan takdir yang kejam. Dan aku... hanyalah bidaknya.* Ia berbalik, berjalan menjauh dari medan perang, meninggalkan segalanya di belakang. "Aku... selalu tahu kau yang akan membunuhku... *bukan karena benci, tapi karena cinta yang terlalu besar*."
You Might Also Like: Rekomendasi Pelembab Gel Ringan Tanpa

Post a Comment

Previous Post Next Post