Baiklah, ini dia kisah Dracin pendek yang Anda minta: **Senyum yang Tumbuh di Atas Luka** Rin, seorang perias wajah terkenal di Shanghai modern, selalu merasa ada yang hilang. Mimpi buruknya berulang: taman persik yang berlumuran darah, hanfu merah sobek, dan sepasang mata dingin menusuk yang menusuk jantungnya. Ia hanya ingat nama samar: "Wei..." Suatu sore hujan, Rin menerima klien baru: Nyonya Li, seorang wanita anggun dengan aura *misterius*. Saat Rin memulaskan lipstik merah delima di bibir Nyonya Li, kilatan ingatan menghantamnya bagai petir. Taman persik! Hanfu merah! Mata dingin itu! "Wei Lian," bisik Rin, tanpa sadar. Nyonya Li tersenyum tipis. "Kau ingat?" suaranya lembut, namun menusuk. "Kau memang selalu cantik, Ruo Lan. Bahkan setelah *seribu tahun*." Rin gemetar. Ruo Lan. Itu namanya di kehidupan sebelumnya. Seorang selir kesayangan kaisar, dikhianati oleh sahabatnya sendiri, Wei Lian, yang menginginkan takhta untuk suaminya, sang pangeran. Wei Lian meracuni Ruo Lan di bawah pohon persik yang sedang mekar sempurna. "Kenapa?" tanya Rin, suaranya bergetar. Wei Lian terkekeh. "Kau terlalu polos, Ruo Lan. Cinta, kesetiaan... itu semua ilusi. Hanya kekuasaan yang abadi." Rin menatap pantulan Wei Lian di cermin. Ia bisa merasakan amarah membara dalam dirinya. Ia bisa saja mengungkap kejahatan Wei Lian, menghancurkan reputasinya di mata publik. Tapi... itu terlalu mudah. Terlalu membosankan. Rin tersenyum. Sebuah senyum *dingin* yang tak pernah dilihat orang lain. "Nyonya Li," kata Rin, "Saya sangat merekomendasikan gaun sutra hijau zamrud untuk pesta amal besok. Gaun itu akan membuat Anda tampak **memukau**." Pesta amal itu adalah gerbang menuju puncak kekuasaan Wei Lian di Shanghai. Suaminya, Tuan Li, adalah seorang taipan berpengaruh. Rin tahu bahwa jika Wei Lian mengenakan gaun hijau zamrud, yang **sama sekali** tidak cocok dengan kulitnya, dia akan menjadi bahan tertawaan. Citranya akan hancur. Jaringan sosialnya akan meragukannya. Suaminya... mungkin akan **kehilangan** kepercayaan padanya. Wei Lian, dibutakan oleh keinginan untuk selalu tampil sempurna, setuju. Malam itu, Wei Lian menjadi bahan cemoohan. Karirnya hancur. Pernikahannya di ujung tanduk. Rin menyaksikan dari jauh, senyum kecil menghiasi bibirnya. Balas dendamnya bukan darah, bukan air mata, tapi *kebohongan* kecil yang menghancurkan sebuah kerajaan. Saat Wei Lian, dengan mata berlinang air mata, menatap Rin dengan tatapan marah dan bingung, Rin berbisik tanpa suara: "Kita akan bertemu lagi, Wei Lian. Di kehidupan yang lain, di dimensi yang lain, **AKU** akan menantimu." Dan ketika Rin berjalan pergi, ia tahu... janji seribu tahun belum berakhir.
You Might Also Like: Dracin Seru Mahkota Yang Retak Oleh
