SERU! Aku Menatapmu Berpakaian Putih, Dan Merasa Seolah Mengantarkanmu Ke Altar Kematian



## Aku Menatapmu Berpakaian Putih, dan Merasa Seolah Mengantarkanmu ke Altar Kematian _Hujan_. Hujan selalu hadir di sini, di tepian antara dunia yang terlihat dan yang tak kasat mata. Rintiknya menari di atas nisan-nisan yang membisu, menggumamkan nama-nama yang sudah lama terlupakan. Aku berdiri di antara mereka, *tak terlihat*, **tak tersentuh**, hanya jiwa yang terikat pada seutas benang tak kasat mata. Dulu, aku bernama Lin Wei. Sekarang, aku hanya bayangan, sekelebat memori yang mencoba meraih kembali apa yang terlepas dari genggaman. Kebenaran. Itulah yang aku cari. Kebenaran yang mati bersamaku, terkubur di bawah tumpukan kebohongan dan penyesalan. Aku melihatnya. Dia, mengenakan gaun putih. Gaun yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan, tapi di mataku, hanya kain kafan yang berkilauan di bawah rembulan pucat. Mataku terpaku pada sosoknya, yang berjalan anggun menuju altar. Di sana, dia akan mengikat janji dengan pria yang... yang namanya membuat dadaku berdenyut nyeri, bahkan setelah kematian. Setiap langkahnya adalah tusukan belati di hatiku yang sudah hancur. Setiap senyum yang dia berikan adalah kutukan yang membungkamku. Aku ingin berteriak, *MENGHENTIKANNYA!* Tapi bibirku kelu. Aku hanyalah hantu, terjebak dalam siklus pengulangan, menyaksikan adegan yang seharusnya tak pernah terjadi. Bayangan menolak pergi. Mereka menempel padaku seperti lintah, menghisap sisa-sisa kekuatan yang kuperlukan untuk mempertahankan wujudku di dunia ini. Setiap malam, aku kembali ke rumah kami, rumah yang kini menjadi neraka yang sunyi. Aku melihat bayanganku sendiri berinteraksi dengannya, sebelum semua ini terjadi. Tawa kami, sentuhan kami, kenangan kami... semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Aku mencoba berkomunikasi. Sentuhan dingin di pipinya saat dia tertidur, suara bisikan di telinganya saat dia melamun. Tapi dia tak merasakan apa pun. Dia hanya menghela napas, mengira itu hanyalah angin malam yang dingin. Waktu terus berjalan, atau mungkin tidak. Bagiku, waktu sudah kehilangan maknanya. Hari-hari berlalu, diisi dengan rasa sakit, penyesalan, dan harapan yang sekarat. Aku menyaksikan pernikahannya, kehidupan barunya, kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku. Dan di setiap momen itu, aku merasakan sakit yang tak terperikan. Namun, di suatu malam yang sunyi, saat dia duduk sendirian di balkon, menatap bintang-bintang, aku melihat sesuatu yang lain di matanya. Bukan kebahagiaan, tapi kesedihan. Kesepian. Sebuah kerinduan yang tak terucap. Saat itulah aku menyadari. Aku tak mencari balas dendam. Aku tak ingin merusak kebahagiaannya. Aku hanya ingin dia tahu kebenaran. Kebenaran tentang apa yang terjadi sebelum aku meninggal. Kebenaran tentang siapa yang membunuhku. Kebenaran yang akan membebaskannya dari mimpi buruk yang sama yang menghantuiku. Aku mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku. Aku memfokuskan seluruh energiku pada satu momen. Satu bisikan. Satu petunjuk. Aku berbisik di telinganya, nama pembunuhku. Nama yang sangat dikenalnya. Nama yang akan menghancurkan dunianya. Dia tersentak, matanya melebar ketakutan. Dia menoleh ke sekeliling, mencoba mencari sumber suara itu. Dia tidak melihat apa-apa. Tapi dia mendengar. Dia *MERASAKANNYA*. Keesokan harinya, aku melihatnya pergi. Dia pergi mencari kebenaran. Dia pergi untuk membalaskan dendamku. Dan di saat itulah, beban itu terangkat dari pundakku. Rasa sakit itu mereda. Penyesalan itu mulai memudar. Tugas ku selesai. Aku menatap hujan yang turun semakin deras. Cahaya rembulan semakin redup. Waktuku untuk pergi telah tiba. Apa yang sebenarnya dia cari bukanlah balas dendam, tetapi... KEDAMAIAN. Arwah itu baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya...
You Might Also Like: Cerpen Seru Kau Adalah Akhir Dari

Post a Comment

Previous Post Next Post