**Gema Istana yang Terkubur** Hujan menggigil menerpa pelataran istana. Bulir-bulirnya yang dingin seolah menari di atas batu-batu yang basah, setiap tetesnya membawa *kenangan*—kenangan tentang senyum Pangeran Jian, dan kehangatan tangannya yang dulu begitu sering menggenggam jemari Lin Mei. Dulu, istana ini adalah taman rahasia mereka, tempat janji diukir di bawah rembulan yang bersemi. Sekarang, yang tersisa hanyalah bayangan yang patah, terpantul di genangan air yang suram. Lin Mei, dengan gaun putih lusuh yang kontras dengan kemegahan istana, berdiri di bawah naungan pagoda tua. Tangannya menggenggam erat gulungan surat—surat yang *tak pernah* terkirim. Surat-surat itu berisi curahan hati seorang gadis yang mencintai seorang pangeran, seorang pangeran yang kemudian lebih memilih takhta daripada cintanya. "Jian…" bisiknya, suaranya nyaris tertelan deru hujan. Dulu, ia menyebut nama itu dengan nada penuh kasih. Sekarang, hanya ada pahit yang mengendap di lidahnya. Cahaya lentera di tangannya nyaris padam, berkedip-kedip seolah menolak menerangi kesunyian yang menyesakkan. Sama seperti hatinya, cahaya itu berjuang melawan kegelapan yang terus menggerogoti. Waktu berlalu bagai siput merayap. Jian telah menjadi Kaisar Jian. Ia memerintah dengan tangan besi, melupakan janji-janji manis yang dulu diucapkannya. Sementara Lin Mei, ia hidup dalam kesunyian, menjadi hantu di istana yang dulunya adalah saksi bisu cinta mereka. Setiap malam, ia menulis surat. Mencurahkan segala rasa sakit, kekecewaan, dan *amarah* yang membara di dalam hatinya. Surat-surat itu tak pernah dikirim. Karena bagi Lin Mei, surat-surat itu adalah senjatanya. Senjata yang ditempa dengan air mata dan dendam. "Kau pikir aku hanya berdiam diri?" gumamnya, senyum tipis mengembang di bibirnya. Senyum yang tidak mencerminkan kebahagiaan, melainkan *tekad*. "Kau salah, Jian. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat." Beberapa tahun berlalu. Kaisar Jian semakin berkuasa, semakin lalai. Ia tidak tahu, bahwa di balik senyum hantu Lin Mei, tersembunyi rencana yang sudah lama dipersiapkan dengan cermat. Ia tidak tahu, bahwa setiap bisikan angin di istana membawa pesan-pesan rahasia, merajut jaring-jaring yang akan menjeratnya. Suatu malam, saat bulan purnama menggantung sempurna di langit, Lin Mei akhirnya mengirim suratnya yang terakhir. Bukan kepada Jian, melainkan kepada seseorang yang jauh lebih berkuasa, seseorang yang menyimpan dendam yang lebih besar daripada dendamnya. Lin Mei berdiri di puncak pagoda, memandang istana yang berkilauan di bawah cahaya bulan. Ia memejamkan mata, merasakan angin dingin menerpa wajahnya. "Waktunya telah tiba," bisiknya. Kemudian, ia membuka matanya. Di matanya, tidak ada lagi kesedihan. Hanya ada *tekad yang membara*. Saat itu, Lin Mei tersenyum. Sebuah senyum yang dingin, menakutkan, dan *penuh kemenangan*. Lalu, dia pun menghilang dalam bayang-bayang istana. *Dan tahukah kau, ternyata selama ini, racun yang perlahan membunuh Kaisar Jian, bukanlah racun biasa, melainkan… tinta yang digunakan Lin Mei untuk menulis surat-suratnya.*
You Might Also Like: Soboba Casino Resort Celebrates
