Dracin Seru: Dendam Yang Kutulis Di Udara Malam



Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Dendam yang Kutulis di Udara Malam': **Dendam yang Kutulis di Udara Malam** Malam itu, langit Kota Shanghai menari-nari dalam kelam. Gedung-gedung pencakar langit berbisik dengan lampu-lampu yang berkelip, seolah menyimpan rahasia yang terlalu berat untuk ditanggung. Di balkon apartemen mewahku, aku berdiri, secangkir teh hangat di tangan. Aroma melati yang lembut beradu dengan dinginnya angin malam, menciptakan simfoni yang ironis. Lima tahun lalu, di tempat ini juga, aku pernah berdiri, merasakan hangatnya *pelukanmu* di tengah dinginnya malam. Senyummu, kala itu, adalah mentari yang menghangatkan jiwaku. Janjimu, adalah bintang-bintang yang menuntun langkahku. Tapi, waktu memang seorang penipu ulung. Senyum itu, kini, hanya *topeng*. Pelukan itu, ternyata, mengandung racun yang perlahan membunuhku. Janji-janji itu, berubah menjadi *belati* yang menusuk jantungku berkali-kali. "Yun Xi," suara bariton yang dulu membuat jantungku berdebar kini terdengar hampa. Li Wei, pria yang pernah kucintai dengan segenap jiwa, berdiri di belakangku. Matanya berkilat, tapi aku tahu, itu bukan lagi kilatan cinta. Itu adalah kilatan *ambisi*. "Ada apa, Li Wei?" tanyaku, suaraku setenang permukaan danau di pagi hari. Aku sudah belajar menyembunyikan badai di dalam hati. Aku sudah belajar menutupi luka dengan *keanggunan*. "Perusahaanmu... aku butuh perusahaanmu," ucapnya, tanpa basa-basi. Setetes air mata nyaris jatuh, tapi aku menahannya. *Jangan tunjukkan kelemahanmu*. Aku berbalik, menatap matanya. "Perusahaanku? Tapi, Li Wei, bukankah kita sudah sepakat untuk membangun semuanya bersama?" Senyum sinis menghiasi bibirnya. "Kesepakatan? Yun Xi, kau terlalu naif. Dunia ini keras. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan." Kata-kata itu, seperti pisau yang berputar-putar di lukaku. Tapi, aku tetap tenang. Aku sudah merencanakan semuanya. "Tentu saja," jawabku, dengan senyum yang kupoles sedemikian rupa hingga terlihat tulus. "Ambil saja, Li Wei. Ambil semuanya." Keesokan harinya, aku menyerahkan perusahaan padanya. Semua orang terkejut. Mereka mengira aku hancur. Mereka mengira aku akan berteriak, menangis, dan meratap. Tapi, aku hanya tersenyum. Aku tahu, di balik keberhasilannya merebut perusahaanku, tersembunyi bom waktu yang akan meledak suatu hari nanti. Aku sudah menanamnya dengan cermat, langkah demi langkah, dalam setiap detail perjanjian, dalam setiap keputusan bisnis yang diambilnya. Aku tidak menginginkan darah. Aku tidak menginginkan kematian. Aku hanya menginginkan *penyesalan*. Penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidup. Penyesalan karena telah mengkhianati cinta yang tulus. Penyesalan karena telah meremehkanku. Lima tahun berlalu. Li Wei menjadi semakin sukses, semakin kaya, semakin berkuasa. Tapi, matanya selalu terlihat kosong. Aku melihatnya di pesta-pesta mewah, ditemani wanita-wanita cantik. Tapi, senyumnya tidak pernah sampai ke matanya. Aku tahu, *bom* itu sudah meledak. Aku melihatnya dari kejauhan. Aku merasakan getarannya. Suatu malam, aku kembali berdiri di balkon apartemenku. Angin malam berbisik, membawa serta berita tentang kebangkrutan Li Wei. Perusahaannya hancur, reputasinya tercoreng, dan ia ditinggalkan semua orang. Aku tersenyum tipis. *Balas dendam* ini terasa manis dan pahit sekaligus. Aku mengangkat cangkir tehku, menatap langit malam. Di sana, di antara bintang-bintang yang berkelip, aku menuliskan dendamku. Dengan air mata yang akhirnya mengalir. Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama...
You Might Also Like: Top Air Mata Yang Menjadi Hujan Pertama

Post a Comment

Previous Post Next Post